November 15th 2016 | Category: Tanaman Hidroponik

Apa saja jenis-jenis sistem hidroponik dan bagaimana cara menanamnya? Sebelum menjawab pertanyaan itu, sekiranya kita perlu mengenal hidroponik lebih lanjut. Dalam dunia pertanian, hidroponik dikenal dengan istilahsoilless culture alias budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah. Dalam budidaya tanaman ini masih memanfaatkan air tetapi tanpa media tanah. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan kebutuhan nutrisi tanaman menggunakan air.

Meski tidak menggunakan media tanah, namun tidak lantas hidroponik tidak menggunakan media tanam sama sekali. Adapun media tanam hidroponik dibuat dari bahan lain selain tanah yang berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya akar tanaman. Media tanam yang digunakan bukan sembarang media tanam. Melainkan yang memenuhi beberapa kriteria berikut:

Baca juga artikel terkait Jenis-Jenis Sistem Hidroponik di: Dan kumpulan artikel lainnya mengenai Tanaman Hidroponik, .
  • mudah menyerap air berlebih,
  •  memiliki struktur material subur, gembur, dan mampu menyimpan cadangan air cukup,
  • bebas kandungan garam atau NaCl,
  • kadar salinitasnya rendah,
  • memiliki kandungan kapur dan kalium sebagai nutrisi yang dibutuhkan tanaman,
  • tidak mengandung jenis organisme tertentu yang menimbulkan munculnya penyakit atau hama, dan
  • memiliki ph antara 6-7 atau mencapai titik netral.

Berdasar beberapa kriteria di atas, ada beberapa macam media tanam sistem hidroponik yang bisa dipilih. Diantaranya mineral wool, arang sekam, hydroton, serbuk sabut kelapa, spons, perlite, akar pakis, kapas, kerikil, pasir, pumice, expended clay, hydrogel, dan vermiculite. Sekarang tentu Anda lebih mengenal hidroponik bukan? Maka saatnya mengulik apa saja jenis-jenis sistem hidroponik dan cara mudah menanamnya.

Jenis-Jenis Sistem Hidroponik Jenis Jenis Sistem Hidroponik

Jenis-Jenis Sistem Hidroponik Dan Cara Menanamnya

Berdasar model pengairan hidroponik, ada 8 jenis sistem menanam hidroponik yang perlu Anda tahu. Berikut uraiannya:

Sistem Hidroponik Aeroponik

Sistem ini memanfaatkan bantuan teknologi. Dimana tanaman ditanam dengan cara menempatkannya sedemikian rupa sehingga akarnya terlihat menggantung. Sistem ini memiliki prinsip kerja memberi air dan nutrisi ke tanaman dalam bentuk kabut atau butiran kecil. Proses pengabutan tersebut didapat dari sebuah pompa air yang menyemprotkan air melalui nozzle. Dengan sistem ini nutrisi lebih cepat diserap oleh akar tanaman yang menggantung. Namun, proses pengabutan perlu dikontrol misal menggunakan timer karena akar yang menggantung cenderung lebih cepat mengering.

Sistem Hidroponik NFT (Nutrient Film Technique)

Sistem NFT dilakukan dengan menempatkan akar tanaman di atas lapisan air dangkal. Adapun air yang dimaksud sudah melalui proses sirkulasi dan kaya kandungan nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Larutan air dialirkan melewai akar tanaman dan selanjutnya mengalir kembali ke bak penampungan setelah selang waktu tertentu. Sistem ini sangat bergantung pada pasokan listrik untuk menggerakkan pompa.

Sistem Drip

Sistem drip terbilang sederhana dan banyak diterapkan di perumahan. Sistem menerapkan tetesan larutan nutrisi ke seluruh akar tanaman. Dimana air yang dibutuhkan tidak begitu banyak. Hanya saja memang lebih direkomendasikan untuk tanaman agak besar dengan ruang yang besar pula untuk pertumbuhan akar. Cara menanam hidroponik sistem ini yaitu tanaman ditanam pada media tanam yang banyak dengan sistem pengairan selang atau pipa yang ditarik memanjang.

Sistem Pasang Surut

Prinsip kerja sistem ini yaitu tanaman mendapat air, nutrisi, dan oksigen dari pemompaan bak yang mana akan membasahi air. Proses ini disebut pasang. Selanjutnya nutrisi akan kembali ke bak penampungan setelah selang waktu tertentu yang disebut proses surut. Proses pasang surut perlu diatur agar tidak terjadi kekurangan air atau genangan. Cara menaman dengan sistem ini yaitu pompa air dibenamkan dalam laurtan nutrisi yang sudah dipasang timer. Air dalam penampungan akan dipompa dan dialirkan ke tanaman yang sudah diatur waktunya. Pada saat timer mati, air otomatis turun kembali ke penampungan.

Sistem DFT (Deep Flow Technique)

Sistem ini membutuhkan daya listrik dalam sirkulasi air. Dimana air akan disirkulasi melalui pipa menggunakan pompa air yang sudah diatur dengan timer terkait waktu on-off. Cara menanam hidroponik sistem ini yaitu meletakkan akar tanaman sedemikian rupa sehingga lapisan air berada di kedalaman sekitar 4-6 cm. Timer akan mengatur kapan air dialirkan dari bak penampungan. Selanjutnya kelebihan air turun kembali ke penampungan.

Sistem Sumbu

Sistem ini menggunakan sumbu yang menghubungkan media tanam dengan penampungan. Larutan ditarik dari penampungan melalui sumbu ke media tanam yang satu dan disalurkan ke media tanam selanjutnya. Anda bisa menggunakan sumbu kompor, kain bekas, atau kapas. Sumbu yang dipilih mestinya menyerap air dengan baik. Dimana akar tidak langsung dicelupkan tetapi ditanam dalam beberapa media tanam. Salah satu ujung sumbu ditempatkan pada reservoir berisi larutan nutrisi dan ujung lainnya di media tanam dekat akar tanaman.

Sistem Rakit Apung

Sistem ini menggunakan platform media tanam yang mengapung. Keuntungannya nutrisi bisa langsung diperoleh akar tanaman. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen bisa memanfaatkan pompa aquarium yang dimasukkan ke bak penampungan.

Sistem Fertigasi

Sistem bekerja dengan irigasi tetes dimana tanaman memperoleh nutrisi dari tetesan air. Air yang diteteskan bukan air biasa melainkan larutan nutrisi. Sehingga meski hanya 1 tetes nutrisinya sudah mendukung pertumbuhan tanaman.

Masing-masing sistem hidroponik di atas memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Sekian uraian kali ini. Semua kini Anda lebih paham tentang jenis-jenis sistem hidroponik dan cara menanamnya.

Pencarian Seputar Artikel Budidaya Tanaman

Artikel Terkait Jenis-Jenis Sistem Hidroponik


Tips Seputar Jenis-Jenis Sistem Hidroponik


Shares